ArabicBlogger Tips And Tricks|Latest Tips For BloggersFree BacklinksBlogger Tips And Tricks Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German Spain Italian Dutch

Rabu, 25 Februari 2015

10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia

10 Penyakit paling mematikan di dunia 10 Penyakit Paling Mematikan di Dunia – Hidup sehat dan berkualitas merupakan harapan setiap manusia yang hidup di muka bumi. Namun pada kenyataannya, manusia selalu berhadapan dengan berbagai penyakit dalam perjalanan hidupnya, mulai dari penyakit ringan hingga penyakit kronis yang mematikan. Jadi apa yang dimaksud dengan Penyakit? Dalam kamus bahasa Indonesia, Penyakit adalah gangguan kesehatan yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau kelainan sistem yang faal atau jaringan pada organ tubuh (pada makhluk hidup). Dari ribuan jenis penyakit yang dikenal oleh manusia saat ini, terdapat 10 Jenis Penyakit yang paling mematikan di Dunia ini. Penyakit yang paling mematikan di dunia menurut catatan WHO (World Health Organization) adalah Penyakit Jantung Iskemik atau sering disebut juga dengan Penyakit Arteri Koroner. Menurut Estimasinya, Penyakit Jantung Iskemik ini telah menyebabkan kematian 7,4 juta jiwa pada tahun 2012 di seluruh dunia. Sedangkan urutan nomor 2 ditempati oleh Stroke yang menyebabkan kematian 6,7 juta jiwa pada tahun 2012. Daftar 10 Penyakit Paling mematikan di Dunia Berikut ini adalah daftar lengkap 10 Penyakit yang Paling mematikan di dunia dan angka kematian yang disebabkannya. 1. Penyakit Jantung Iskemik Istilah dalam bahasa Inggris : Ischemic Heart Disease Angka Kematian pada tahun 2012 : 7,4 Juta jiwa (13,2%) Organ tubuh yang terpengaruh : Jantung Penyebab utama : Tekanan darah tinggi, obesitas, stress. 2. Stroke Istilah dalam bahasa Inggris : Stroke Angka Kematian pada tahun 2012 : 6,7 juta jiwa (11,9%) Organ tubuh yang terpengaruh : Otak Penyebab utama : Tekanan darah tinggi 3. Penyakit Paru-paru Obstruktif Kronik Istilah dalam bahasa Inggris : Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) Angka Kematian pada tahun 2012 : 3,1 juta jiwa (5,6%) Organ tubuh yang terpengaruh : Paru-paru Penyebab utama : Merokok, Polusi 4. Infeksi Pernafasan Bawah Istilah dalam bahasa Inggris : Lower Respiratory Infections Angka Kematian pada tahun 2012 : 3,1 juta jiwa (5,5%) Organ tubuh yang terpengaruh : Paru-paru, Saluran Pernafasan 5. Kanker Trakea, Bronkus, dan Paru-paru Istilah dalam bahasa Inggris : Trachea, Bronchus, and Lung Cancers Angka Kematian pada tahun 2012 : 1,6 juta jiwa (2,9%) Organ tubuh yang terpengaruh : Paru-paru Penyebab utama : Merokok, Polusi, Lingkungan yang beracun 6. HIV/AIDS Istilah dalam bahasa Inggris : HIV/AIDS Angka Kematian pada tahun 2012 : 1,5 juta jiwa (2,7%) Organ tubuh yang terpengaruh : Darah, Sistem kekebalan tubuh Penyebab utama : Virus HIV 7. Penyakit Diare Istilah dalam bahasa Inggris : Diarrheal Diseases Angka Kematian pada tahun 2012 : 1,5 juta jiwa (2,7%) Organ tubuh yang terpengaruh : Usus, Saluran Pencernaan Penyebab utama : Virus, keracunan makanan 8. Penyakit Diabetes Melitus (Kencing Manis) Istilah dalam bahasa Inggris : Diabetes Mellitus Angka Kematian pada tahun 2012 : 1,5 juta jiwa (2,7%) Organ tubuh yang terpengaruh : Darah Penyebab utama : obesitas, defisiensi sekresi hormone insulin, defisiensi transporter glukosa. 9. Tuberkulosis Istilah dalam bahasa Inggris : Tuberculosis (TB) Angka Kematian pada tahun 2012 : 900 ribu jiwa Organ tubuh yang terpengaruh : Paru-paru Penyebab utama : Bakteri Mycobacterium tuberculosis 10. Malaria Istilah dalam bahasa Inggris : Malaria Angka Kematian pada tahun 2012 : 627 ribu jiwa Organ tubuh yang terpengaruh : Darah Penyebab utama : gigitan Nyamuk

Selasa, 24 Februari 2015

Pengetahuan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran

Di gerbang milenium ketiga, peradaban manusia telah maju begitu rupa. Banyak pencapaian yang telah diraih, mulai dari yang sifatnya “nilai-nilai” (penghargaan atas kemanusiaan, kebebasan, hak atas informasi, dan semacamnya) hingga ke penemuan berbagai artefak kebudayaan. Jauh sebelum penghujung milenium kedua tiba, revolusi teknologi informasi telah merambah ke segenap pelosok bumi. Berbagai perangkat teknologi yang ditemukan telah menghadirkan definisi baru tentang ruang dan waktu. Seiring dengan itu, berbagai proses sosial yang berwujud transformasi terjadi di mana-mana. Istilah yang paling populer untuk menjelaskan situasi ini adalah “globalisasi”. Secara sederhana, globalisasi dapat dipahami sebagai sebuah proses sosial yang meruntuhkan batas-batas, sehingga dunia menjelma sebagai sepetak kampung. Globalisasi bukan semata fenomena ekonomi, tetapi juga menyangkut transformasi ruang dan waktu. Revolusi teknologi informasi dan massifnya intensitas komunikasi tingkat global memungkinkan manusia sekarang ini untuk melangsungkan model interaksi yang lambat laun berubah. Intensifikasi hubungan tingkat dunia ini selanjutnya akan melahirkan pola-pola relasi baru dalam bidang ekonomi, sosial, politik, komunikasi, pola perilaku sehari-hari, dan termasuk relasi antar-individu. Meminjam cara penggambaran yang dibuat oleh Jean-Francois Lyotard, globalisasi dapat digambarkan demikian: seorang pemuda kampung di pedalaman Madura sedang mengobrol dengan saudaranya yang bekerja di sebuah hotel Amerika di Arab Saudi dengan menggunakan telepon genggam produk Finlandia, simcard yang dimodali oleh perusahaan Malaysia, dengan jasa piranti lunak buatan Australia. Dia sedang memesan jam tangan Swiss, dan sedang dipertimbangkan apa akan dikirim dengan jasa pengiriman perusahaan Belanda atau lewat tetangganya yang akan pulang ke kampung halaman. Riwayat globalisasi sebagai efek lebih jauh dari berbagai produk teknologi dan sains dapat ditelusuri jauh ke belakang. Adalah filsuf Inggris Francis Bacon (1561-1626) yang mula-mula meneguhkan metodologi ilmiah yang menjadi motor penggerak perkembangan sains, yakni dengan memperkenalkan metode (penalaran) induktif. Dalam paham Bacon, arah kerja filsafat dibalik: daripada mempersoalkan final causes (teleologi), filsafat sebaiknya mulai menyibukkan diri dengan efficient causes (kausalitas). Dari sini, eksprimentasi dan observasi kemudian didaulat sebagai ruh sains. Dan filsafat pun kemudian diberi basis praktis untuk kehidupan sehari-hari, sehingga dari situlah muncul diktum: knowledge is power (pengetahuan adalah kekuasaan).1 Sains atau pengetahuan ilmiah bekerja dengan prinsip keterukuran. Cita-cita sains adalah kehendak untuk memegang kendali kehidupan dengan lebih besar, atau, dalam bahasa Giddens, untuk “membentuk sejarah menurut tujuan kita sendiri”. Dengan pencapaian sains dan teknologi, dunia diharapkan dapat lebih stabil dan tertata. Akan tetapi, kenyataannya, dunia yang hadir saat ini tak seperti yang diperkirakan oleh para pemikir itu. Bukannya menjadi lebih terkendali, dunia saat ini tampaknya menjadi tak terkontrol, menjadi dunia yang lari tunggang langgang (runaway world). Proses globalisasi membentuk corak masyarakat yang penuh risiko. Capaian-capaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia memang telah sanggup mengantarkan manusia pada status ontologis keserbapastian (ontological security). Namun, di sisi lain, berkat iptek pula, manusia dewasa ini terjebak dalam situasi keserbatakpastian, yang merupakan konsekuensi logis yang inheren dari sistem relasi yang diciptakan manusia sendiri (manufactured uncertainties). Relasi manusia dengan alam dan lingkungan, dengan dukungan teknologi industri yang eksploitatif, ternyata melahirkan efek-efek destruktif seperti pemanasan bumi, perusakan lapisan ozon, polusi, dan semacamnya. Risiko yang lahir dari pola-pola relasi itu tak syak lagi akan menjadi ancaman bagi keberadaan hidup manusia itu sendiri.2 Pembicaraan mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk kegiatan pembelajaran yang belakangan ini marak dilakukan dalam konteks uraian di atas seperti dimaksudkan untuk mengarahkan produk teknologi agar dapat dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan pengembangan pendidikan. Maksudnya, pembicaraan tentang pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran sebenarnya berlangsung di atas kesadaran bahwa bagaimanapun fungsi produk teknologi itu dapat saja “lepas kendali” dan justru bergerak di wilayah yang dipandang negatif. Posisi TIK Kemudian, di manakah sebenarnya letak fungsi dan peran teknologi dalam aktivitas pembelajaran, khususnya teknologi informasi dan komunikasi? Untuk memahami ini, kita bisa kembali pada pengertian mendasar teknologi, sebagai bagian dari wujud kebudayaan (fisik) manusia. Kata teknologi berasal dari bahasa Yunani, technologia, techne yang berarti ‘keahlian’ dan logia yang berarti ‘pengetahuan’. Dalam pengertian yang sempit, teknologi mengacu pada objek benda yang dipergunakan untuk kemudahan aktivitas manusia, seperti mesin, perkakas, atau perangkat keras. Dalam pengertian yang lebih luas, teknologi dapat meliputi pengertian sistem, organisasi, juga teknik. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, pengertian teknologi menjadi semakin meluas, sehingga saat ini teknologi merupakan sebuah konsep yang berkaitan dengan jenis penggunaan dan pengetahuan tentang alat dan keahlian, dan bagaimana ia dapat memberi pengaruh pada kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengubah sesuatu yang ada di sekitarnya.3 Jadi, teknologi adalah semacam perpanjangan tangan manusia untuk dapat memanfaatkan alam dan sesuatu yang ada di sekelilingnya secara lebih maksimal. Dengan demikian, secara sederhana teknologi bertujuan untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan manusia.4 Seiring dengan berkembangnya ilmu, yakni dengan semakin bercabangnya berbagai gugus ilmu yang ada menjadi lebih spesifik dan khusus, maka kemudian muncul disiplin teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan dalam pengertian yang sederhana adalah satu sistem yang meliputi alat dan bahan media, organisasi, yang digunakan secara terencana untuk mendukung proses pembelajaran. Seperti halnya teknologi pada umumnya, dalam disiplin ini, teknologi dibahas sedemikian rupa untuk memberikan sesuatu yang baru dan mencerahkan bagi aktivitas pembelajaran. Jadi, bisa disebut, untuk efisiensi dan efektivitas, agar kegiatan pembelajaran menjadi menyenangkan, dan semacamnya. Ada yang menyebutkan beberapa manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan sebagai berikut: (1) meningkatkan motivasi siswa; (2) digital portofolio efektif dan efisien; (3) menambah wawasan dan cakrawala berpikir; (4) menumbuhkan jiwa kebersamaan; (5) menjadi alat ukur konsep pembelajaran yang kita lakukan dengan sekolah dari negara lain.5 Salah satu manfaat penting yang dapat ditemukan dari penggunaan perangkat teknologi dalam kegiatan pembelajaran adalah soal akses. Teknologi informasi dan komunikasi mempermudah kita untuk mengakses sumber-sumber informasi dan pengetahuan. Internet adalah contoh yang paling mudah dikemukakan. Dengan internet, kita dapat mengakses jutaan sumber informasi yang dibutuhkan dengan sangat mudah. Saat ini, di internet cukup banyak website yang menyediakan bahan-bahan yang sangat menarik untuk ditampilkan dan dipergunakan di ruang pembelajaran di sekolah. Selain itu, fasilitas surat elektronik dan grup diskusi (mailing-list) dapat menjadi media komunikasi yang sangat bermanfaat. Selain sebagai sumber informasi dan media komunikasi, internet juga dapat berfungsi sebagai media publikasi yang murah, mudah, dan mendunia. Belakangan ini, populer sekali penggunaan fasilitas weblog di internet. Weblog adalah semacam catatan harian yang dapat ditampilkan di internet. Banyak situs yang menyediakan tempat untuk ngeblog, mulai dari Blogger yang merupakan bagian dari Google, atau jurnal di Multiply. Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa weblog yang cukup populer bahkan telah diterbitkan menjadi buku oleh beberapa penerbit. Salah satu di antaranya adalah karya penulis cilik Abdurrahman Faiz yang berjudul Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR Mizan, 2006). Internet hanya salah contoh dari teknologi informasi dan komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran. Selain itu, sebenarnya banyak piranti lunak (software) yang telah dibuat yang sangat mendukung untuk media pembelajaran, baik produk lokal maupun produk perusahaan sekelas Microsoft. Kita, misalnya, mengenal Microsoft Encarta Encyclopedia, yang sejak edisi terbaru dirilis dengan nama Microsoft Student 2008. Selain piranti lunak yang sudah jadi, media komputer juga menyediakan berbagai piranti lunak yang sangat membantu dan dapat meningkatkan mutu pembelajaran. Mulai dari pengolah kata, pengolah data numerik, hingga data visual. Berbagai piranti lunak itu memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan dan membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, menarik, dan menghibur. Macromedia Flash misalnya, menginspirasi guru untuk menggunakan media animasi flash sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dicerna.6 Dari Soal Teknis Hingga Mental Gambaran fasilitas yang disediakan oleh berbagai perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang sangat mendukung untuk kegiatan pembelajaran sungguh sangat memberi harapan bagi model pembelajaran yang lebih baik. Akan tetapi, kenyataannya, pemanfaatan berbagai perangkat teknologi itu tidak semudah yang kita bayangkan. Membayangkan manfaat dan kemudahan yang akan didapat dari teknologi untuk pembelajaran memang terasa indah. Meski demikian, mencoba merancang pemanfaatan teknologi di sekolah akan mengantarkan kita pada sejumlah masalah di lapangan, mulai dari yang sifatnya teknis hingga yang terkait dengan aspek mental (kebudayaan) dalam pengertian yang lebih luas. Situs www.e-pendidikan.net, misalnya, secara kritis mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan internet dan pendidikan. Internet Masuk Sekolah - Mengapa? Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan? Kutipan di atas mengajukan sejumlah pertanyaan yang bahkan terasa cukup mendasar tentang pemanfaatan internet sebagai media pendukung pembelajaran, yang mungkin juga dapat berlaku pada perangkat teknologi lain pada umumnya. Kemampuan berbahasa Inggris, misalnya, dipertanyakan, karena tanpa itu, internet—dan juga perangkat atau produk teknologi yang lain—akan menjadi kurang maksimal nilai manfaatnya. Seorang teman yang kurang menguasai bahasa Inggris pernah berseloroh kepada saya dengan berkata: “Andai Encarta ada versi bahasa Indonesianya, alangkah enaknya.” Tenaga kependidikan di Madura pada khususnya tak hanya bermasalah dengan penguasaan bahasa Inggris untuk dapat memaksimalkan perangkat dan produk teknologi untuk pembelajaran—bahkan, di kalangan terdidik semacam mahasiswa, kemampuan berbahasa Inggris masih menjadi masalah yang cukup serius. Para guru di Madura bahkan sebenarnya juga masih cukup bermasalah dengan keterampilan mendasar untuk menggunakan perangkat teknologi komputer. Tak hanya tentang keterampilan praktis, bahkan kadang saya menduga kuat bahwa pemahaman mendasar sebagian kalangan terdidik di Madura terhadap internet masih cukup jauh dari cukup. Salah satu kasus yang cukup sering ditemui adalah ketidakmampuan mereka membedakan antara alamat email dan alamat website, sehingga—menurut cerita seorang kawan—di sebuah papan nama instansi pemerintah daerah di Madura tercantum alamat email yang didahului dengan “www” yang semestinya digunakan dalam alamat website. Ini mungkin dapat dimaklumi, karena menurut Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2003 pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar 8 juta atau 3,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Meski untuk tahun 2004 diperkirakan akan bertambah menjadi 12 juta, jumlah ini terbilang masih jauh dari persentase yang signifikan.7 Selain pertanyaan tersebut di atas, situs www.e-pendidikan.net juga mengemukakan data yang menyebutkan bahwa 30 ribu desa di Indonesia belum teraliri listrik.8 Persoalan teknis semacam ini patut menjadi perhatian penting karena listrik adalah basis dan syarat utama dari penggunaan teknologi. Di Madura, atau paling tidak di desa saya (Guluk-Guluk), masalah listrik menjadi masalah yang cukup serius. Tulisan ini saja, misalnya, disusun di antara hari-hari yang penuh dengan pemadaman listrik—mungkin karena cuaca dan angin yang tak cukup bersahabat—sehingga menjadi cukup tersendat, karena sebagian besar data yang dibutuhkan tersimpan dalam bentuk digital di komputer. Lebih jauh, kutipan di atas sebenarnya juga mempertanyakan arah kurikulum sekolah yang kurang memberi dorongan kepada siswa untuk meneliti dan berkreativitas secara mandiri. Dengan kata lain, mempersoalkan kultur, mentalitas, atau tradisi belajar di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Jika mental belajar masih belum kokoh, lalu untuk apa internet akan digunakan? Masuknya sebuah produk ilmu pengetahuan pada umumnya dan teknologi pada khususnya menuntut keterbukaan sikap kultural masyarakat untuk proses integrasi yang lebih baik. Tanpa integrasi ilmu atau produk teknologi dengan kebudayaan yang menerimanya, maka yang akan muncul adalah gejala disintegrasi antara pengetahuan ilmiah dan sikap ilmiah. Penerapan sebuah teknologi tertentu dalam suatu masyarakat, misalnya, menuntut kedisiplinan yang—secara relatif—tinggi dalam pemanfaatannya, sehingga berlaku kaidah: semakin tinggi suatu jenis teknologi maka semakin kecil kekeliruan yang diizinkan.9 Dalam konteks pembelajaran, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menuntut keterbukaan sikap dan mental dari civitas kependidikan untuk mengubah paradigma atau cara pandang mereka terkait dengan aktivitas kependidikan. Yuyun Estriyanto menyebutkan beberapa perubahan budaya pembelajaran yang patut diperhatikan. Di antara yang disebutkan yang menarik untuk dicermati adalah bahwa, dengan pemanfaatan teknologi, guru tak lagi menjadi satu-satunya sumber otoritas atau sumber informasi, karena teknologi mengubah sumber pengetahuan menjadi tak terbatas. Jadi, guru kadang kemudian lebih berperan sebagai pendamping, pengarah, atau fasilitator.10 Untuk lingkungan pendidikan di Madura, mengubah cara pandang guru untuk dapat bersikap lebih terbuka, dalam pengertian terbuka bahwa dirinya bukan satu-satunya sumber otoritas pengetahuan dalam aktivitas pembelajaran, mungkin dapat dikatakan gampang-gampang susah. Memang, dalam khazanah tradisional pesantren yang lekat di Madura, kerendahan hati atau sikap tawâdhu‘ untuk menempatkan otoritas tertinggi pengetahuan hanya pada Yang Mahatahu sudah menjadi pengetahuan umum dan cukup mentradisi. Bahkan, dalam kitab-kitab karya ulama klasik, selalu ada ungkapan khas “wallahu a‘lam” yang menyiratkan landasan epistemologis sikap semacam ini.11 Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa karena sekolah formal yang ada secara umum cenderung mengadopsi pendidikan bergaya bank—meminjam istilah Paulo Freire—maka otomatis otoritas pengetahuan nyaris hanya diidentikkan dengan guru. Dalam pendidikan dengan gaya bank, kreativitas siswa kurang diperhatikan. Anak didik diperlakukan sebagai bejana kosong yang diisi pengetahuan oleh para guru. Guru dipandang tahu segalanya, dan murid tidak tahu apa-apa. Guru berbicara, murid mendengarkan. Guru adalah subjek proses belajar dan murid adalah objeknya. Guru memilih bahan dan isi pelajaran dan murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan isi pelajaran itu.12 Dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi, dalam masyarakat kita otoritas dan sumber pengetahuan sering kali hanya selalu diidentikkan dengan sekolah. Menurut Ivan Illich, pandangan populer seperti ini sangat bias kapitalis. Sekolah, lanjut Illich, adalah fenomena modern yang lahir seiring dengan perkembangan masyarakat industri kapitalistik. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket untuk memperoleh sertifikat (ijazah). Sertifikat ini nantinya akan digunakan sebagai alat legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia—menjadi sekrup dalam mesin besar kapitalisme. Sekolah justru cenderung berdampak anti-edukasi terhadap masyarakat, karena sekolah lalu diakui sebagai satu-satunya spesialis lembaga pendidikan. Padahal, dalam situasi ini, sekolah adalah lembaga yang dibangun atas dasar anggapan bahwa kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar. Guru dianggap sebagai pengawas, pengkhotbah, sekaligus ahli terapi untuk memberi petuah-petuah moral. Jadilah guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga berfungsi sebagai ideolog, hakim, dan dokter, yang menentukan masa depan peserta didik.13 Nah, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan pendidikan paling tidak dapat pula berperan membantu mendekonstruksi pandangan tradisional tentang posisi dan otoritas guru serta sekolah seperti tergambar di atas. Dengan demikian, pertanyaannya adalah: apakah secara kultural masyarakat pendidikan kita sudah memiliki kesiapan mental untuk itu? Persoalan atau tantangan kultural lainnya yang dapat dikemukakan di sini adalah soal ketegasan orientasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran. Apakah perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang ada akan dapat maksimal dimanfaatkan untuk aktivitas pembelajaran? Lebih tepatnya, siapkah kita mengarahkan optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut? Apakah internet tidak hanya dijadikan tempat ngobrol, bukan sebagai sumber informasi dan tempat berdiskusi? Berkaitan dengan ini, tak heran jika Onno W. Purbo, praktisi IT terkemuka, menggarisbawahi bahwa internet membutuhkan masyarakat baca-tulis yang kuat. Artinya, butuh kultur belajar yang kuat, untuk dapat memberi hasil yang optimal.14 Salah satu cerminan yang cukup menarik—dan mungkin juga cukup menggelitik—dari pemanfaatan teknologi internet di Indonesia dapat terbaca dari sumber data hasil penelitian ClearCommerse.com, sebuah situs e-security (pengamanan elektronik), yang pada tahun 2000 hingga 2001 melakukan penelitian atas 40.000 ribu pelanggan, 1.137 merchant, dan 6 juta transaksi. Survei tersebut menyatakan bahwa dalam hal fraud atau carder, Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia, di antara Ukraina dan Yugoslavia. Fraud atau carder adalah pelaku transaksi di toko online di internet dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain tanpa izin—alias mencuri. Data tersebut menjelaskan bahwa 20 persen transaksi kartu kredit dari Indonesia dilakukan oleh carder—di Amerika kurang dari satu persen.15 Data semacam ini menunjukkan bahwa internet kadang menjadi media yang lepas kendali, yang kurang lebih disebabkan oleh kesiapan mental para penggunanya. Karena itu, pengarahan yang intensif, terencana, dan menyeluruh perlu sekali dilakukan agar fasilitas teknologi yang ada dapat benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan dan peradaban. Salah satu contoh yang cukup menarik dipaparkan di sini adalah bagaimana komunitas SMP Qaryah Thayyibah yang dikelola oleh Ahmad Bahruddin di Salatiga dapat memanfaatkan media internet sebagai pendukung kegiatan belajar. Bahkan, pada tingkat tertentu, membantu mendorong kreativitas anak dalam belajar dan berkarya. Dr. Naswil Idris, dosen komunikasi dan peneliti untuk Asia Pacific Telecommunity yang berpusat di Bangkok menyetarakan komunitas SMP Qaryah Thayyibah di Salatiga dengan tujuh komunitas pengguna internet dan komputer terbaik di dunia. Diceritakan bahwa mula-mula memang ada keraguan untuk memperkenalkan internet kepada siswa yang masih duduk di bangku SLTP, sampai akhirnya dipertimbangkan bahwa sebelum bersentuhan dengan hal-hal yang negatif, siswa diajarkan menggunakan internet untuk belajar dan memperluas wawasan ke sumber informasi yang tak terbatas itu.16 Di antara hasil kreativitas siswa di sana, terbitlah buku hasil penelitian tiga orang siswa SMP Qaryah Thayyibah, yakni Naylul Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah, berjudul Lebih Asyik Tanpa UAN (LKiS, Januari 2007).17 Sikap mental yang masih menjadi persoalan dalam kaitannya dengan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat pula ditemukan dalam kasus proyek-proyek pemerintah. Pada tahun 1996, pemerintah mulai mencanangkan program pengembangan teknologi informasi dan komunikasi bernama Nusantara 21. Sayangnya, proyek prestisius yang pada 1997 mendapatkan bantuan Bank Dunia senilai US$ 34,5 juta itu akhirnya berakhir dengan kegagalan. Dana ratusan juta rupiah menguap hanya untuk membayar para ahli dan hanya menghasilkan konsep yang tertuang dalam buku.18 Setali tiga uang dengan kasus ini, situs www.e-pendidikan.net menyorot beberapa situs pemerintah yang dikelola di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang sudah lama sekali tidak diupdate. Contohnya: www.pustekkom.go.id (website Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan), www.perpustakaan.diknas.go.id, dan sebagainya. Kutipan lainnya dari situs tersebut menulis demikian: Walapun kita sangat mendukung pelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan. Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?19 Apakah ini berarti bahwa para petinggi kita yang mengurusi soal pendidikan masih bermental proyek, termasuk juga dalam hal yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi? Salah satu contoh lain yang juga bisa dikemukakan di sini adalah maraknya upaya penerapan E-Government di beberapa daerah. Pemerintah Daerah atau instansi pemerintah berlomba meluncurkan situs resmi mereka. Pertanyaannya: apakah upaya seperti itu akan dapat memberi dampak yang terlihat nyata bagi upaya pembangunan? Jika situs atau media internet secara umum dilihat sebagai upaya untuk memudahkan akses, apakah situs semacam itu akan cukup efektif untuk memberi akses kepada masyarakat atas informasi publik dan mempermudah akses mereka untuk menyalurkan aspirasi?20 Onno W. Purbo misalnya mengatakan bahwa dalam kasus semacam ini mungkin yang lebih tepat bukan situs, tetapi email. Buatkan akun email untuk instansi, dan pastikan bahwa email yang masuk akan direspons dengan langkah nyata. Jika seperti ini, baru akan terlihat manfaat kemudahan akses yang diberikan oleh perangkat teknologi.21 Mesin-Hasrat Teknologi Felix Guattari dan Gilles Deleuze, pemikir Posmodernis, mengemukakan sebuah konsep yang cukup kontekstual untuk diangkat di sini, yakni Mesin Hasrat (Desiring Machine). Mesin Hasrat adalah sebuah mekanisme psikis dalam psikoanalisis yang fungsinya memproduksi dan mereproduksi hasrat, sehingga ia selalu menginginkan sesuatu yang lain.22 Konsep Mesin Hasrat ini rasanya cukup tepat untuk menggambarkan realitas perkembangan teknologi saat ini, yang dalam konteks kerangka pembicaraan tulisan ini akan menjadi semacam tantangan yang harus dijawab dalam upaya optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi, pada tingkat tertentu, telah mencipta dunia tersendiri yang berkembang sedemikian rupa dengan begitu pesat. Gerak laju perkembangan teknologi yang cukup luar biasa ini kurang lebih dapat dilihat sebagai didorong oleh Mesin Hasrat. Dorongan Mesin Hasrat ini mengintensifkan interaksi antara sains dan teknologi. Jika mula-mula sainslah yang melahirkan teknologi, hubungan sains dan teknologi saat ini, menurut Nirwan Dewanto, sudah seperti ayam dan telur.23 Penggambaran yang lebih jelas tentang hal ini dapat dicermati dalam uraian Ignas Kleden atas pemikiran Jurgen Habermas dalam Theory and Practice. Perkembangan teknik moderen yang kuasiotonom bukan saja berarti bahwa perkembangannya sulit dikendalikan untuk kepentingan manusia, tetapi berarti pula bahwa perkembangan itu sangat sulit dihentikan atau dikurangi kecepatannya. Sebabnya ialah karena ada semacam “etos” dalam kalangan teknisi, bahwa keberhasilan dan prestasi mereka diukur dengan apa yang masih dapat diciptakannya lagi. Efisiensi berubah menjadi nilai. Maka apa yang mungkin secara teoretis, harus pula diwujudkan dan dimanfaatkan secara teknis. Dalam bentuk ekstrimnya ini berarti bahwa perkembangan teknik bukanlah dikendalikan atau ditentukan oleh suatu tujuan yang sekaligus menjadi normanya. Yang terjadi adalah sebaliknya: setiap ditemukan teknik baru, segera diusahakan pula bagaimana teknik tersebut dapat dan harus dipergunakan. Maka terlihatlah suatu etik yang aneh: bukanlah tujuan yang menentukan cara, melainkan cara yang menentukan tujuan.24 Posisi teknologi yang relatif otonom ini pada gilirannya menjadikan produk-produk teknologi sebagai satu bagian yang sulit dipisahkan dari gaya hidup. Ketika masih terhitung langka, pemilik telepon seluler dahulu tak hanya memiliki kemudahan berkomunikasi, tetapi juga dapat memiliki rasa bangga dengan kadar relatif tertentu.25 Saat ini, ketika telepon seluler sudah banyak dimiliki orang, tetap saja terlihat jelas bagaimana telepon seluler kebanyakan lebih sering berada dalam kerangka gaya hidup, bukan pada aspek fungsional. Di sekitar kita, cukup banyak orang yang memiliki perangkat telepon genggam canggih dengan fungsi yang tak maksimal. Sementara si pemakai hanya menggunakan fitur telepon dan pesan pendek, telepon canggihnya sebenarnya tak hanya memiliki fasilitas GRPS, tetapi juga Wi-Fi. Mesin Hasrat yang diturunkan oleh teknologi juga dapat berbentuk aktivitas ilmiah yang tak terpuji. Hasrat terhadap pengetahuan, atau tepatnya terhadap popularitas ilmiah, terkadang berwujud tindakan plagiarisme. Dengan kemudahan sumber informasi yang tersedia di internet dan kemudahan mengolah data dengan komputer, orang kadang terdorong untuk menggunakan sumber-sumber informasi itu secara kurang jujur. Secara pribadi, saya pernah beberapa kali menemukan praktik plagiarisme yang memanfaatkan jasa mesin pencari di dunia maya (yakni Google). Tentu saja, plagiarisme tak harus menggunakan komputer. Akan tetapi, teknologi menyediakan peluang dan kemudahan yang cukup besar untuk melakukannya.26 Penutup Pemaparan sekilas dalam tulisan ini sebenarnya berupaya untuk memetakan potensi dan tantangan yang harus dijawab dalam upaya pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Berbagai catatan penting yang berusaha diajukan dalam tulisan ini pada dasarnya dapat dilihat sebagai peringatan agar jangan sampai teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran kemudian berubah menjadi semacam “mitos baru”27 yang diagung-agungkan tetapi kurang memiliki manfaat nyata yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Era informasi saat ini benar-benar telah melahirkan banjir elektronika, air bah dan apokalipso informasi, yang membutuhkan bahtera penyelamat.28 Wujudnya yang paling tepat mungkin adalah mentalitas dan integritas moral civitas pendidikan dan masyarakat pada umumnya untuk dapat membaca itu semua dalam kerangka kerja peradaban dalam pengertian seluas-luasnya.

Kamis, 05 Februari 2015

Sifat Bahan & Pemanfaatannya dalam Kehidupan



Dalam bab ini akan dibahas sifat bahan-bahan di sekitar kita dan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
A. Bahan Serat
Istilah serat sering dikaitkan dengan sayur-sayuran, buah-buahan, dan tekstil (bahan pembuat pakaian).
Secara kimiawi serat adalah suatu polimer.
Berdasarkan asal bahan penyusunnya serat dikelompokkan menjadi serat alami (polimer alami) dan serat sintetis (polimer sintetis).
1) Serat Alami
Bahan serat alami diperoleh dari tumbuhan, hewan, dan mineral.
  • Serat tumbuhan diperoleh dari selulosa tumbuhan, misalnya dari kapas, kapuk, dan rami. Contoh tekstil dari selulosa adalah katun dan linen.
  • Serat hewan berupa serat protein dapat diperoleh dari rambut domba, benang jala yang dihasilkan oleh laba laba, dan kepompong ulat sutera. Contoh tekstil dari serat protein yaitu wol dan sutera.
  • Serat mineral, umumnya dibuat dari mineral asbetos.
2) Serat Sintetis
Serat sintetis merupakan serat yang dibuat oleh manusia, bahan dasarnya tidak tersedia secara langsung dari alam. Contoh kain yang terbuat dari serat sintetis adalah :
  • Rayon
  • Polyester
  • Dakron 
  • Nilon
3) Serat Campuran
Penggunaan bahan-bahan alami dan sintetis dapat dicampurkan untuk memperbaiki kualitas bahan. Contoh tekstil dari bahan serat campuran adalah :
  • TC (Tetoron Cotton) campuran dari polyester dan katun.
  • TR (Tetoron Rayon) campuran dari polyester dan rayon.
Pemanfaatan tekstil dari berbagai macam serat didasarkan pada ciri-ciri seratnya antara lain kehalusan, kekuatan, daya serap, dan kemuluran atau elastisitas. Salah satu cara untuk menentukan ciri dari bahan serat dapat dilakukan dengan analisis pembakaran.
Karakteristik bahan serat :
  1. Serat kapas dari selulosa (kapas) memiliki karakteristik bahan terasa dingin dan sedikit kaku, mudah kusut, mudah menyerap keringat, rentan terhadap jamur dan mudah terbakar. Kalau terbakar nyalanya berjalan terus, berbau seperti kertas, dan meninggalkan abu berwarna kelabu.
  2. Serat linen dibandingkan dengan katun mempunyai ciri lebih halus, lebih kuat, berkilau lembut, kurang elastis, mudah kusut, tidak tahan seterika panas. Serat linen mudah terbakar, bila terbakar nyalanya berjalan terus, berbau seperti kertas terbakar, dan meninggalkan abu berwarna kelabu.
  3. Serat sutera mempunyai ciri-ciri berkilau, sangat bagus dan lembut, tidak mudah kusut, sangat halus, kekuatannya tinggi, dan kurang tahan terhadap sinar matahari. Mempunyai daya serap cukup tinggi, tidak mudah berjamur, sukar terbakar, cepat padam, berbau seperti rambut terbakar, bekas pembakaran berbentuk abu hitam, bulat, dan mudah dihancurkan.
  4. Serat wool, mempunyai ciri agak kuat, tidak berkilau, keriting, kekenyalan tinggi, elastisitas tinggi, dan merupakan penahan panas yang baik, tahan terhadap jamur dan bakteri. Pada pembakaran terbentuk gumpalan hitam dan berbau rambut terbakar.
  5. Serat asbes umumnya mempunyai kekuatan tarik yang tinggi, daya mulurnya sangat rendah, hanya sedikit menyerap air, sangat tahan panas dan api, dan tahan cuaca. Serat asbes merupakan penghantar listrik dan panas yang jelek, sehingga mineral asbes banyak dimanfaatkan untuk pelapis kabel listrik, sarung tangan, dan tirai.
  6. Serat nilon mempunyai ciri sangat kuat, ringan dan berkilau, elastisitas sangat kuat, tidak mudah kusut, tahan terhadap serangan jamur dan bakteri. Nilon tidak tahan panas, mudah terbakar, meleleh bila dibakar, berbau khas, serta meninggalkan bentuk pinggiran keras yang berwarna cokelat.
  7. Serat polyester mempunyai ciri elastisitasnya tinggi sehingga tidak mudah kusut, tahan terhadap sinar matahari, tahan suhu tinggi, daya serap air yang rendah, tahan terhadap jamur, bakteri, dan serangga. Apabila dibakar polyester mudah terbakar, tetapi apinya cepat padam, meninggalkan tepi yang keras dan berwarna cokelat muda.
  8. TC (Tetoron Cotton) dan TR (Tetoron Rayon) mempunyai ciri kurang dapat menyerap keringat dan agak panas di badan, tidak susut dan mengembang, apabila dibakar akan menghasilkan abu dan arang.
B. Bahan Karet

Karet dihasilkan oleh pohon karet (Hevea brasiliensis) berupa getah seperti susu yang disebut lateks.
Lateks diperoleh dengan cara menyadap, yaitu dengan menyayat kulit pohon atau pada bagian kortek tumbuhan tersebut.
Secara kimiawi karet alam adalah senyawa hidrokarbon yang merupakan polimer alam hasil penggumpalan lateks alam dan merupakan makromolekul poliisoprena (C5H8)n.
Karet sintetis terbuat dari bahan baku yang berasal dari minyak bumi, batu bara, minyak, gas alam, dan acetylene. Banyak dari karet sintetis adalah kopolimer, yaitu polimer yang terdiri dari lebih dari satu jenis monomer. Karet sintetis dapat diubah susunannya sehingga diperoleh sifat yang sesuai dengan kegunaannya.
Berikut beberapa jenis karet sintetis dengan sifat dan kegunaannya.
  1. NBR (Nytrile Butadiene Rubber). NBR memiliki ketahanan yang tinggi terhadap minyak, digunakan dalam pembuatan pipa karet untuk bensin dan minyak, membran, seal, gaskot, serta peralatan lain yang banyak dipakai dalam kendaraan bermotor.
  2. CR (Chloroprene Rubber), CR dengan ciri tahan terhadap nyala api, digunakan sebagai bahan pipa karet, pembungkus kabel, seal, gaskot, dan sabuk pengangkut.
  3. IIR (Isobutene Isoprene Rubber), IRR mempunyai sifat kedap air, digunakan untuk bahan ban bermotor, pembalut kawat listrik, pelapis bagian dalam tangki, tempat penyimpan lemak dan minyak.
C. Bahan Tanah Liat dan Keramik

Tanah liat merupakan bahan dasar yang dipakai dalam pembuatan keramik.
Secara kimiawi tanah liat termasuk hidrosilikat alumina.
Sifat fisik tanah liat yaitu plastis bila keadaan basah, keras bila kering, dan bila dibakar menjadi padat dan kuat.
Secara umum barang-barang yang dibuat dari tanah liat dinamakan keramik.
Namun, saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat.
Keramik dibedakan menjadi dua kelompok yaitu :

1) Keramik tradisional

Keramik tradisional bahan bakunya dari tanah liat.
Berdasarkan komposisi tanah liat dan suhu pembakarannya, keramik tradisional dibedakan menjadi tembikar (terakota), gerabah (earthenware), keramik batu (stoneware), dan porselen (porcelain).
  • Terakota atau tembikar adalah produk yang bahan bakunya dari tanah liat dengan pembakaran sekitar 1000oC.
  • Gerabah adalah produk yang bahan bakunya dari tanah liat dengan pembakaran 1200oC.
  • Keramik batu adalah tanah liat dengan campuran bahan lain diantaranya kuarsa dan air, dibakar sampai suhu 1200oC-2000oC.
  • Porselin dibuat dari bahan yang mirip dengan keramik tetapi baru mulai matang pada pembakaran 15000oC.
2) Keramik halus

Keramik halus atau keramik teknik yang bahan bakunya dari oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam (Al2O3, ZrO2, MgO, dan lainnya).
Keramik halus ini penggunaanya sebagai elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang medis.
Peralatan yang diperlukan untuk membuat keramik, antara lain :
  • Mixer (untuk mengaduk bahan keramik)
  • Glasir (berfungsi mengkilapkan)
  • Cetakan gypsum
  • Penggiling glasir
  • Rak pengering
  • Pencelup glasir
  • Oven atau tungku pemanas
Teknik Pembuatan Keramik

Pembuatan keramik umumnya dilakukan dengan tiga teknik pembentukan keramik, yaitu:
  • Pembentukan tangan langsung (hand building).
  • Teknik putar (throwing), dan
  • Teknik cetak (casting).
Langkah-langkah pembuatan keramik sebagai berikut :

Tahap pembentukan, yaitu tahap pengubahan tanah liat plastis menjadi benda-benda yang dikehendaki.
  1. Pengeringan, bertujuan untuk menghilangkan air yang terikat pada badan keramik.
  2. Pembakaran, yaitu proses mengubah bahan yang rapuh menjadi bahan yang padat, keras, dan kuat.
  3. Glasir, untuk melapisi permukaan keramik melalui proses pengeringan. Glasir merupakan material yang terdiri atas beberapa bahan tanah atau batuan silikat yang akan membuat permukaan keramik seperti gelas yang mengkilap.
  4. Tahap pelukisan untuk memberikan hiasan dengan motif-motif yang menarik.
  5. Pembakaran kembali dalam oven dengan suhu lebih kurang 800o C.
  6. Pengemasan sesuai permintaan.
D. Bahan Gelas
Bahan gelas dan kaca yang digunakan oleh masyarakat prasejarah berasal dari kaca alami yang disebut obsidian.
Obsidian adalah produk sampingan alami dari letusan gunung berapi berupa benda yang tajam, mengkilap dengan warna hitam, orange, abu-abu, atau hijau.
Menurut catatan sejarah, kaca sudah diproduksi sejak tahun 4 SM (Sebelum Masehi) yaitu dengan bahan pasir kuarsit yang dipanaskan sampai meleleh kemudian dibiarkan dingin, dan terbentuklah benda keras yang tembus pandang.
Bahan baku pembuatan kaca ada dua kelompok yaitu :
  1. Bahan yang dibutuhkan dalam jumlah besar meliputi pasir silika, soda abu, batu kapur, feldspar dan pecahan gelas (cullet).
  2. Bahan yang dibutuhkan dalam jumlah kecil meliputi natrium sulfat, natrium bikromat, selenium dan arang. Pasir silika, batu kapur dan feldspar sangat melimpah di Indonesia.
Gelas aman digunakan sebagai kemasan karena beberapa sifat unggul berikut :
  • Kedap terhadap air, gas, bau-bauan dan mikroorganisme.
  • Tidak dapat bereaksi dengan barang yang dikemas (bahan kimia).
  • Dapat didaur ulang.
  • Dapat ditutup kembali setelah dibuka.
  • Tembus pandang sehingga isinya dapat dilihat.
  • Memberikan nilai tambah bagi produk (nilai estetika).
  • Kaku dan kuat sehingga dapat ditumpuk tanpa mengalami kerusakan.
  • Gelas dapat disimpan dalam jangka waktu panjang tanpa mengalami kerusakan.
Jenis kaca berbeda memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Salah satu sifat fisik kaca adalah densitas atau kepadatan. Kepadatan adalah massa persatuan volume.
Keterangan :
ρ   = Massa Jenis (kg/m3 atau g/cm3)
m  = Massa benda (kg atau gram)
v   = Volume benda (m3 atau cm3)
E. Bahan Kayu

Tumbuhan di sekitar kita terdiri atas kelompok tumbuhan batang basah yang disebut herbaceus dan tumbuhan batang berkayu yang disebut lignosus. Selanjutnya, kelompok tumbuhan batang berkayu dibedakan antara perdu dan pohon. Pada umumnya kayu yang digunakan sebagai bahan untuk berbagai keperluan diperoleh dari kelompok tumbuhan berkayu berupa pohon.
Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari peralatan masak seperti sendok kayu, perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela, rangka atap), bahan kertas, alat transportasi (perahu), dan banyak lagi. Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan-hiasan rumah tangga, aksesoris, dan cindera mata.
Kayu dimanfaatkan untuk berbagai keperluan karena mengandung komponen penting yaitu selulosa, lignin, dan senyawa ekstraktif (senyawa tertentu yang dapat diambil dari kayu).
  • Selulosa merupakan senyawa polimer turunan dari glukosa, dapat mencapai 70% dari berat kayu. Selulosa merupakan bahan utama pembuatan kertas dan tekstil.
  • Lignin merupakan komponen pembentuk kayu, meliputi 18-28% berat kayu. Secara kimiawi, kayu keras dan kayu lunak dibedakan pada jumlah dan jenis lignin yang terkandung di dalamnya.
  • Senyawa ekstraktif dapat berupa zat warna, getah, resin, lilin, dan lainnya, yang jumlah dan jenisnya tergantung spesies pohonnya. Senyawa ekstraktif ini memiliki manfaat seperti melindungi kayu dari hama. Senyawa ekstraktif merupakan salah satu dari hasil hutan nonkayu.
Pemanfaatan kayu disesuaikan dengan sifat-sifatnya. Kayu dari jenis pohon yang berbeda mempunyai sifat yang berbeda. Pengenalan atas sifat-sifat akan sangat membantu dalam menentukan jenis-jenis kayu untuk tujuan pengunaan tertentu.
Berikut beberapa sifat kayu :

1) Bobot dan Berat Jenis

Bobot suatu jenis kayu bergantung pada kandungan zat kayu, jumlah poripori, zat ekstraktif, dan kadar air. Bobot kayu ditunjukkan dengan berat jenis (BJ) kayu, dan dipakai sebagai patokan kualitas kayu. Berdasarkan berat jenisnya, kayu digolongkan menjadi empat, yaitu: sangat berat dengan BJ > 90; berat dengan BJ 0,75-0,90; sedang dengan BJ 0,60-0,75; dan ringan dengan BJ <60. Berat jenis berhubungan dengan kekuatan kayu. Pada umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu tersebut semakin kuat pula.

2) Keawetan

Keawetan adalah daya tahan kayu terhadap serangan hama dan penyakit perusak kayu, misalnya serangga dan jamur. Keawetan kayu disebabkan kandungan senyawa ekstraktif di dalam kayu. Kayu jati memiliki senyawa ekstraktif tectoquinon, kayu ulin mengandung silika. Kedua jenis kayu tersebut memiliki tingkat keawetan yang tinggi.

3) Warna

Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda. Warna kayu juga dipengaruhi oleh posisinya dalam batang, umur pohon dan lingkungan. Kayu dari pohon yang tua warnanya lebih gelap dari kayu yang masih muda meskipun jenisnya sama. Kayu kering warnanya berbeda dengan kayu basah.

4) Tekstur

Tekstur adalah ukuran relatif serat kayu, yang teksturnya kasar, sedang, dan halus. Arah serat adalah alur-alur yang terdapat pada permukaan kayu terhadap sumbu batang. Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring). 

5) Kesan Raba

Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak, dan lainnya). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, dan kadar zat ekstraktif dalam kayu.

6) Bau dan Rasa

Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang. Untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kayu kulim) dan bau zat penyamak (kayu jati).

7) Nilai Dekoratif

Nilai dekoratif berhubungan dengan keindahan. Nilai dekoratif kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan pola-pola tertentu.

8) Kekerasan atau Densitas 

Kekerasan kayu berhubungan langsung dengan bobot kayu. Kayu-kayu yang keras juga termasuk kayu yang berat. Kayu-kayu yang ringan termasuk kayu yang lunak.

Berdasarkan kekerasannya kayu digolongkan menjadi dua, yaitu kayu lunak (soft wood) dan kayu keras (hard wood).
  • Kayu lunak yaitu kayu yang yang berasal dari tumbuhan yang berdaun seperti jarum misalnya pinus. Ciri fisik kayu lunak memiliki lubang pori-pori besar.
  • Kayu keras berasal dari tumbuhan yang daunnya lebar misalnya jati dan mahoni. Ciri fisik kayu keras adalah serat kayunya berbentuk bulat telur atau spiral, dan ikatan antarpori-porinya lebih kuat.
Densitas diukur dalam satuan kg/m3
Rata-rata densitas kayu yang ada adalah sekitar 320 - 720 kg/m3
Ada beberapa jenis kayu yang sangat lunak hingga 160 kg/m3 dan paling tinggi kekerasan kayu pada level 1.000 kg/m3.
~~~ ### ~~~

Objek IPA dan Pengamatannya

on Tuesday, September 16, 2014
Pada bab ini, kita akan mempelajari apa yang diselidiki  dalam IPA, bagaimana melakukan pengamatan, serta mempelajari pengukuran sebagai bagian dari pengamatan.
A. Penyelidikan IPA
1) Proses
Penyelidikan ilmiah IPA melibatkan sejumlah proses yang harus dikuasai, antara lain seperti berikut :
a) Pengamatan
b) Membuat inferensi (merumuskan penjelasan berdasarkan pengamatan)
c) Mengomunikasikan
2) Kegunaan
Kemampuan penyelidikan ilmiah IPA merupakan keterampilan sepanjang hayat yang dapat digunakan dalam mempelajari berbagai macam ilmu, termasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun kegunaan belajar IPA dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
a) Memahami berbagai hal di sekitar kita
b) Berfikir logis dan sistematis
c) Meningkatkan kuaitas hidup
d) Menyelesaikan masalah
3) Objek
Objek yang dipelajari dalam IPA meliputi seluruh benda di alam dengan segala interaksinya untuk dipelajari pola-pola keteraturannya.
B. Pengukuran sebagai Bagian dari Pengamatan
Pengukuran
Mengukur merupakan kegiatan penting dalam kehidupan dan kegiatan utama di dalam IPA. Segala sesuatu yang dapat diukur disebut besaran.
Mengukur merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang dipakai sebagai satuan.
Satuan yang disepakati adalah satuan baku.
Dalam Satuan SI (sistem Internasional), setiap jenis ukuran memiliki satuan dasar, contohnya panjang memiliki satuan dasar meter. Untuk hasil pengukuran yang lebih besar atau kecil digunakan awalan-awalan kilo, mili, mikro dan lain-lain.
1) Besaran Pokok
Besaran yang satuannya didefinisikan (menggunakan satuan baku yang disepakati bersama) disebut besaran pokok.

a) Panjang
Panjang menggunakan satuan dasar SI meter (m). Satu meter setandar baku sama dengan jarak yang ditempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1/299792458 sekon.

Beberapa alat ukur panjang diantaranya: mistar atau penggaris, pita ukur, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
b) Massa
Massa adalah jumlah materi yang terkandung dalam suatu benda. Dalam SI massa menggunakan satuan dasar kilogram (kg). Satu kilogram standar baku sama dengan massa sebuah silinder yang terbuat dari campuran platinum-iridium yang disimpan di Sevres, Paris, Prancis. Massa 1 kg setara dengan 1 liter air pada suhu 4oC.

Massa suatu benda dapat diukur dengan neraca.
c) Waktu
Waktu adalah selang antara dua kejadian atau dua peristiwa. Satuan SI untuk waktu adalah sekon (s). Satu sekon standar (baku) adalah waktu yang dibutuhkan atom Cesium untuk bergetar 9.192.631.770 kali.

Waktu dapat diukur dengan jam tangan atau stopwatch.
Berdasarkan hasil Konferensi Umum mengenai Berat dan Ukuran ke-14 tahun 1971, Sistem Internasional disusun mengacu pada tujuh besaran pokok seperti tabel berikut:
Besaran Pokok
Satuan
Simbol Satuan
Panjang
Massa
Waktu
Kuat Arus
Suhu
Jumlah Zat
Intensitas Cahaya
meter
kilogram
sekon
ampere
kelvin
mol
candela
m
kg
s
A
K
mol
cd
2) Besaran Turunan
Besaran turunan adalah besaran yang disusun dari satu atau lebih besaran pokok.
Pada kesempatan ini hanya dibahas 4 contoh besaran turunan.
1) Luas
Untuk benda yang berbentuk persegi, luas benda dapat ditentukan dengan mengalikan hasil pengukuran panjang dengan lebarnya.
2) Volume
Volume merupakan besaran turunan yang disusun dari besaran pokok panjang. Untuk mengukur volume benda padat yang bentuknya teratur, misalnya balok dapat ditentukan dengan mengukur terlebih dahulu panjang, lebar dan tingginya, kemudian dikalikan. Sedang untuk mengukur volume zat cair yang tidak memiliki bentuk tetap dapat menggunakan gelas ukur.
3) Konsentrasi Larutan
Konsentrasi larutan dapat dirummuskan sebagai massa zat terlarut deibagi dengan volume zat pelarut.

Konsentrasi Larutan
=
massa zat terlarut
volume zat pelarut
4) Laju Pertumbuhan
Besaran panjang dan waktu dapat digunakan untuk menentukan pertumbuhan tanaman.

Laju Pertumbuhan
=
pertambahan tinggi
selang waktu

Kehidupan

Penyebab Pemanasan Global

efek rumah kaca
IlmuPengetahuan.Org – Para ilmuwan telah menghabiskan puluhan tahun untuk mencari tahu apa yang menjadikan penyebab pemanasan global (Global Warming). Mereka telah melihat siklus alam dan peristiwa yang diketahui mempengaruhi iklim. Namun jumlah dan pola pemanasan yang telah diukur tidak dapat dijelaskan oleh faktor-faktor ini saja. Satu-satunya cara untuk menjelaskan pola untuk memasukkan efek gas rumah kaca yang dipancarkan oleh manusia yaitu dengan meneliti apa saja yang menyebabkan efek rumah kaca itu sendiri.
Untuk membawa semua informasi ini bersama-sama, PBB membentuk sekelompok ilmuwan yang dikenal dengan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). IPCC mengadakan pertemuan setiap beberapa tahun sekali untuk meninjau dan membagikan temuan ilmiah terbaru dan menulis laporan serta merangkum semua yang diketahui tentang pemanasan global. Setiap laporan yang dilaporkan merupakan konsensus atau kesepakatan antara ratusan ilmuwan terkemuka yang tergabung dalam IPCC.
Salah satu hal yang dipelajari oleh ilmuwan yaitu efek rumah kaca yang bertanggung jawab untuk pemanasan global. Sebagian penyumbang terbesar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil kendaraan bermotor, pabrik dan produksi listrik. Gas yang bertanggung jawab atas sebagian besar untuk pemanasan global yaitu Karbon dioksida (CO2). Penyumbang lainnya yaitu metana yang dilepaskan dari tempat pembuangan sampah dan pertanian (terutama dari kotoran hewan-hewan ternak), Nitrous oksida (N2O) dari pupuk, gas yang digunakan untuk pendinginan dan proses industri, dan hilangnya hutan.
Dalam rangka untuk menghadapi dampak dari pemanasan global, para ilmuwan cenderung membahas tentang semua gas yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca. Sejak tahun 1990, emisi tahunan sudah naik sekitar 6 miliar ton metrik CO2 di seluruh dunia, atau meningkat lebih dari 20 persen.

Rabu, 04 Februari 2015

8 Penemuan Sains yang Membuka Mata Dunia

lmu pengetahuan terus bergerak maju. Berbagai penemuan baru yang mengejutkan dan membuka mata manusia menjadi tonggak penting dalam peradaban. Bahwa hal yang dulu hanya khayalan telah menjadi kenyataan, serta penemuan-penemuan ini semakin menyadarkan bahwa ada Dzat yang Maha Besar sebagai sumber kehidupan.

Beberapa hal yang patut kita ketahui misalnya terpapar pada 8 daftar di bawah ini.
1. Ununseptium

Unuseptium yang untuk sementara dinamai unsur ke 117 merupakan kombinasi antara isotop berkelium dan kalsium yang diciptakan para ilmuwan di Dubna, Rusia. Para fisikawan mengatakan bahwa unsur ini bisa menunjukkan “island of stability”, dimana unsur yang terberat bisa bertahan selama berbulan-bulan.
Unsur dengan nomor atom 117 ini dibuat dengan cara memborbardir 249Bk dengan ion kalsium dalam siklotron JINR U4000 selama 150 hari yang terdapat di Dubna.

Keseluruhan proses yang memakan waktu tidak lebih dari 320 hari yang merupakan waktu paruh unsur Bk (150 hari dalam siklotron+analisis data+review oleh tim peneliti) ini akhirnya berhasil menghasilkan 6 atom Ununseptium. Masing-masing dari keenam atom tersebut kemudian meluruh dengan memancarkan partikel alfa menjadi unsur bernomor atom 115 kemudian 113 sampai intinya terbelah menjadi dua atom yang lebih stabil.
2. Gen Penyebab Penuaan
Manusia memiliki sel tubuh yang regeneratif, bisa terus memperbarui jumlahnya. Namun teka-teki penyebab ketuaan menjad perhatian ilmuwan. Secara genetika, ternyata terdapat unsur penyebab kita tak bisa awet muda selamanya.

Dan pada beberapa orang ada yang tampak tua lebih cepat. Apa sebabnya? Para ahli genetika menemukan bahwa hal tersebut disebabkan oleh ulah gen TERC. Gen tersebut menentukan panjang telomer, semacam tutup yang terdapat pada ujung kromosom.

Orang pembawa gen itu akan cenderung mengalami penuaan lebih cepat sebab telomernya akan memendek lebih cepat. Orang yang membawa satu copy gen itu misalnya, akan tampak sama tua dengan orang yang 3-4 tahun lebih tua darinya. Penelitian tentang gen TERC itu dipublikasikan dalam Jurnal Genetics.


 
3. Planet Ekstra Surya
3news.co.nz
 
Para peneliti menemukan bahwa terdapat banyak sekali planet di luar tata surya. Salah satunya adalah planet HIP 13044b yang ditemukan oleh Astronom asal Indonesia, Johny Setiawan. Planet tersebut sebenarnya merupakan planet ekstra surya tetapi masuk ke galaksi Bima Sakti. Penemuan planet ekstra surya lainnya adalah adanya 7 planet yang mengorbit pada bintang HD 10180.

Sementara, penemuan planet lainnya yang juga memukau adalah Gliese 581g, planet ekstra surya dikatakan mengorbit bintangnya pada jarak yang tak terlalu panas ataupun dingin, seperti bumi mengorbit matahari. Digadai-gadai beberapa planet tersebut jadi tujuan manusia sebagai pengganti bumi.


4. Penemuan Metamaterial

lifeboat.com
Penemuan ini dilakukan oleh Profesor Martin McCall dan Imperial College, London. Metamaterial yang dibuat dikatakan bisa “mengaduk” aliran energi elektromagnetik. cahaya yang melewati metamaterial tersebut akan terhambur secara tidak merata, membentuk gap antara ruang dan waktu.

Sehubungan dengan metamaterial, bisa lihat di artikel alat-penyusut-benda-buatan-china

5. Muons
Para ilmuwan mengatakan bahwa jumlah materi dan anti materi yang dihasilkan sebelum big bang haruslah berbeda. Hanya perbedaan itulah yang memungkinkan terciptanya semesta. Sebelumnya, perbedaan itu hanya mungkin dalam teori.

Percobaan partikel di Fermilab menemukan bahwa muons (partikel sub atomik seperti halnya elektron) yang dihasilkan memiliki kelebihan 1% anti muons. Perbedaan muons dan anti muons tersebut memang tidak terlalu banyak. Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa jumlah itu cukup untuk memacu terciptanya semesta.


 
6. Bulan Lebih Basah Daripada Sahara

 en.newsbharati.com
Misi Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) berhasil menemukan keberadaan air di bulan cukup mengejutkan. Air yang terdapat di kutub selatan bulan itu terdapat dalam bentuk es yang tercampur dengan materi lain. Para peneliti mengatakan, es tersebut bisa diolah menjadi air murni. Dan jumlahnya lebih banyak daripada air di Gurun Sahara.


7. Piramida Teotihuacan di Meksiko
 
Para arkeolog yang meneliti Piramida Teotihuacan berhasil menemukan koridor selebar 12 kaki lengkap dengan bagian atapnya. Dengan penemuan koridor tersebut, para arkeolog berharap bisa mengetahui jalan menuju pemakaman para rabi atau pemimpin agama dalam peradaban Mexico tersebut.



8. Penemuan Australopithecus sediba
Para ilmuwan menemukan fosil Australopithecus sediba, sebuah spesies manusia purba di wilayah Malapa, Afrika Selatan. Fosil tersebut diduga berasal dari masa 2 juta tahun yang lalu. Para palaentolog menduga, fosil tersebut berkaitan dengan fosil manusia purba Homo erectus yang secara evolusioner kemudian berkembang menjadi Homo sapIens atau manusia modern.